Saturday, May 20, 2017

Gunung Slamet Via Penakir jalur timur

Gunung slamet yang berada di jawa tengah memang tak asing lagi para pendaki, banyak pendaki yang ingin mendaki lagi di gunung slamet karna keindahan view nya saat di puncak maupun jalurnya yang menantang. Meskipun jalur pendakian resmi ada di daerah Pubalingga tetapi masih banyak jalur pendakian yang memang sudah dikelola oleh warga sekitar jalur pendakian. Biasanya jalur – jalur tersebut paling di cari oleh pendaki yang memang belum pernah mencoba lewat jalur tersebut karena masih alami dan tidak terlalu rame ketika naik di hari libur.
Penakir, memang masih asing di telinga ketika mendengar jalur penakir. Jalur pendakian gunung slamet via penakir ada di daerah pemalang jawa tengah. Di rumah pak Daryo biasanya yang di jadikan titik kumpul untuk para pendaki yang akan mendaki gunung slamet via penakir jalur timur. 

Lokasi rumah pak Daryo atau yang sering kami sebut basecamp berada di desa Penakir dukuh saragan Rt.18/08 kec. Pulosari kab.pemalang jawa tengah. frekwensi yang biasa di gunakan warga sekitar untuk HT VHF 144150 dan Untuk menuju ke basecamp tidak terlalu sulit jika di tempuh dari Terminal bus Pemalang / Stasiun kereta api Pemalang cukup naik bis yang jurusan ke pasar Moga, setelah sampai di pasar moga selanjutnya carter mobil bak terbuka langsung menuju ke basecamp. Untuk biaya carter mobil bisa nego sendiri. Perjalanan dari pemalang ke Pasar Moga sekitar 1,5 – 2 jam dan dari pasar moga ke basecamp kurang dari 1 jam. Setelah sampai di basecamp biasanya di sambut baik oleh pak daryo yang sedikit pendiam dengan ciri khas rokok lintingannya. Biasanya pak daryo menceritakan karakteristik jalur pendakian kepada para pendaki, karna jalur pendakian via penakir tidak seperti jalur pendakian gunung slamet yang lain. 
Jalur pendakian via penakir masih sangat alami karna memang masih banyak yang belum tahu, pemandanganya tidak kalah dengan jalur lainnya. Sebenarnya ada 2 jalur pendakian via penakir yaitu sisi barat dan sisi timur, tapi kami akan memberikan sedikit gambaran untuk jalur penakir sisi timur agar ketika mau mendaki lewat jalur tersebut benar – benar siap baik secara peralatan, fisik dan mental.
Sedikit catatan pengalaman kami ketika naik gunung slamet via penakir jalur barat bersama kedua sahabat saya yaitu jacky dan jamal. 
Saat itu kami sampai di basecamp sekitar jam 23.00 wib karna di jalan terkena macet akibat perbaikan jalan di daerah bantarbolang dan langsung di sambut baik oleh pak daryo. Pak daryo cerita tentang jalur pendakian sambil mempersilahkan meminum teh hangat bikinan pak daryo. Setelah jam 00.15 kami pun istirahat untuk mempersiapkan besok biar tidak kurang istirahat, sebelum istirahat kami sempat kan ke belakang dulu buang air kecil. Perlu di ketahui persediaan air disini tidak terlalu banyak jadi gunakan air secukupnya saja sesuai kebutuhan.
Jam 06.00 kami bangun tidur, semalem kami tidur lebih awal sehingga bangun pun lebih awal dari biasanya. 
Ternyata sudah di siapkan teh hangat oleh istrinya pak daryo, kami pun nge teh Sambil packing – packing barang yang akan di bawa dan yang akan di tinggal di basecamp untuk sementara biar tidak terlalu menambah beban. Sebelum melakukan pendakian kami sarapan terlebih dahulu hidangan yang sudah di siapkan oleh istrinya pak daryo.
Setelah packing dan sarapan selesai kami pun mulai pendakian jam 08.00 wib, untuk pedakian lewat jalur penakir memang di sarankan mulai pendakian pagi lambat2nya siang. Jalan dari basecamp ke jalur pendakian memang belum ada tanda tetapi biasanya warga sekitar yang ramah – ramah itu mengarahkannya. 
Dari perkebunan warga naik menelusuri jalur yang berada di sebelah kanan bekas aliran air yang mulai mengering karna musim panas tak lama lagi ketemu percabangan kanan ke jalur barat kiri ke jalur timur, kami ambil ke kiri karna memang mau lewat jalur timur.


Untuk jalur masih relatif terlihat jelas dan terbuka landai meskipun alang2 terlihat sangat lebat setelah melewati hutan pinus.
  

Dari hutan pinus kami terus berjalan sampai di jalur yang samping kanan kirinya alang- alang tapi masih banyak terdapat pohon pinus yang besar dengan jarak yang agak berjauhan. Di sepanjang jalur ini pun banyak terdapat kubangan – kubangan bekas babi mencari makan.
Setelah melewati hutan pinus , jalur semak, dan hutan glagah akhirnya sampai juga di POS 1 CURUG SALEH pada jam 10.00 wib kira- kira dari basecamp ke pos 1 kami tempuh dengan waktu 2 jam. 


Di pos 1 ada tanah datar untuk bisa mendirikan 2 tenda kapasitas 4 orang, tapi  kami hanya istirahat sambil memakan perbekalan yang di bawa. 
Kurang lebih 1 jam kami istirahat kemudian di lanjutkan kembali. Oia tidak jauh dari pos 1 di atasnya ada tanda yang mengarahkan adanya air, tapi air yang ada tidak banyak karena memang bukan sumber mata air hanya saja bekas aliran sungai yang hanya akan ada banyak air jika musim hujan kalo bukan musim hujan kalo musim kering kondisinya ala kadarnya dan harus berbagi dengan hewan yang ada di sekitarnya.

 
Perjalanan di lanjutkan kembali memasuki semak belukar yang rapat dan banyak terdapat ranting – ranting berduri dan daun penyengat sehingga pendaki di rekomendasikan untuk memakai sepatu treking, celana panjang bukan kain, baju atau kaos lengan panjang, sarung tangan dan parang/ golok tebas, jalan sedikit licin dan banyak pacetnya. 


mendekati pos 2 jalur banyak pohon besar yang menghalangi dari terpaan dari sinar matahari langsung. nanti akan ketemu jalur "sempit" di sini enyebutnya ciut, jalur di mana kanan kirinya jurang meskipun banyak pepohonan di pinggirnya. kalo sudah di situ menandakan akan sampai pas pos 2. 

jam 12.44 wib kami baru sampai di POS 2 LUNG CIUT, hitung aja berapa jam dari pos 1 sampai ke pos 2, di pos 2 terdapat tanah datar yang cukup luas kira - kira cukup untuk mendirikan 4 tenda kapasitas 4 orang tapi terkadang tertutup oleh pohon – pohon kecil sehingga harus di pangkas terlebih dahulu.
 Di pos 2 lung ciut ini kami sempatkan untuk masak terlebih dahulu mengisi perut yang mulai tidak nyaman dan inilah Waktu yang pas untuk makan siang. Kicau an burung pun masih sering terdengar di selingi bunyi hewan tongkeret.
Setelah masak – masak , makan – makan, udud dulu, kemudian pendakian dilanjutkan kembali menghadapi jalur yang tak ada bonusnya menuju pos 3. Menanjak lebat dan sesekali harus tersentuh daun penyengat. 


Meskipun jalur begitu menanjak tapi pohon – pohon di sini sangat bervariasi ya lumayan sedikit mengalihkan rasa lelah ini, sesekali kami bertemu dengan ulat.
Meskipun tidak banyak percabangan tapi jalur terkadang tidak terlihat begitu jelas karna meman tertutup pohon – pohon kecil yang tinggi dan lebat, entah apa itu namanya... 


Dijalur ini meskipun tidak terlalu dekat dengan jurang tetap harus hati – hati melangkah jangan terlalu ke pinggir karna bisa terperosok sampai lutut.
POS 3 GRINGGING, akhirnya sampai juga di pos 3 jam 16.53 wib. 

Dari pos 3 sampai di pos 4 tidak ada tanah datar untuk mendirikan tenda jadi kita harus benar – benar memperhatikan waktu tempuh  dari pos ke pos. Untuk pos 3 sendiri ada tanah datar untuk bisa mendirikan tenda 2 tenda kapasitas 4 orang. Di pos 3 kami tidak berlama – lama hanya sekedar menghabiskan rokok 1 batag karna mengejar waktu agar cepat sampai di pos berikutnya. dari pos 3 memasuki hutan lamtoro yang sangat rapat di tambah pohon - pohon kecil yang menutupi jalur memperlambat jalan kami karna harus membabadnya untuk memudahkan kami dalam melangkah. tak jarang juga pohon yang roboh sehingga kami harus merayap menaiki bahkan memotong pohon tumbang jika memang tidak bisa untuk di lewati.

pos 4 NYAMPLUNG jam 19.14 wib karna waktu belum terlalu malam kami langsung melanjutkan pejalanan menuju pos 5 kemungkinan sampai 
pos 5 sekitar jam 21.00 lebih. jalur masih relatif sama yaitu hutan lamtoro dan pohon - pohon kecil yang menutupi jalur, tak di sangka jalur yang kami lalui tertutup pohon yang tumbang dan benar - benar tidak bisa dilewati, di potong butuh waktu lama sedangkan waktu itu sudah jam 21.14 wib akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di jalur meski tidak ada tanah yang luas dan datar, akhirnya pun kami istirahat.

keesokan harinya kami sarapan - sarapan kemudian packing dan membuka jalur di sebelah jalur yang sudah tertutup pepohonan yang tumbang.





jam 08.28 kami melanjutkan perjalanan masih di jalur menanjak tanpa bonus, sepanjang jalur banyak terdapat jejak babi. butuh perjuangan untuk sampai di pos 5 karena harus melalui jalur yang memang sulit di lewatikembali jalur tertutup dan harus membuka jalur di sampingnya agar bisa melanjutkan perjalanan. kalo sudah ketemu tenpat untuk mendirikan 2 tenda di tengah hutan lamtoro berarti sudah dekat dengan pos 5, akhirnya kami pun sampai di POS 5 DREGEL jam 10.14 wib. 

di pos 5 ada tempat untuk mendirikan 1 tenda dan di bawahnya tadi ada untuk 2 tenda.kami istirahat di pos 5 sekitar 1 jam dan di lanjutkan kembali, pos 5 menuju pos 6 ada pohon besar yang menjadi ciri khas jalur ini yaitu pohon besar cantigi raksasa atau biasa orang sini menyebutnya pohon samarhantu gregel. kami sempatkan foto - foto disini untuk sedikit 
menghilangkan rasa lelah dan untuk dokumentasi juga.



perjalanan di lanjutkan kembali, dan sampai POS 6 DAMPYAK jam 11.50 wib pos sambutan dari puncak slamet. di sini viewnya sangat indah sekali banyak bungan edelwais dan kalo kita melihat ke timur gunung sindoro sumbing prau juga kelihatan. di pos ini bisa untuk mendirikan 2 tenda.tapi kami menjutkan kembali menuju PONDOK KASUS sekitar 7 menit dari pos 6.

di pondok kasus kami masak- masak mendirikan tenda dan ada 5 temapt untuk mendirikantenda, setelah mendirikan tenda kami siap - siap untuk sammit attack.

kami melanjutkan perjalanan kembali jam 13.12 wib menuju pos 7. jalur dari pondok kasus menurut jalur yang paling indah meskipun nanjak karena banyak edelwais yang mulai berkembang, jalur nya tidak terlalu jelas karna di tutupi semak ilalang yang sangat lebat.








setelah melewati semak ilalang kembali berjumpa lagi dengan hutan lamtoro kemudian POS 7 GEMBONG jam 15.15 wib. pos ini tidak ada tempat untuk mendirikan tenda karna tanahnya tidak rata tapi sebenarnya pos ini adalah pos terahir yang dekat dengan puncak karena dari pos 7 sudah kelihatan pelawangan.

karna hari sudah sore kami pun langsung melanjutkan ke puncak dengan jalur yang membuat hati berdebar karena sisi kana kiri jurang setelah melewati marker atau penanda dari bendera kecil yang berwarna merah. dan akhirnya sampailah di puncak penakir jam 16.31 wib betapa indahnya view dari puncak penakir. 


rekomendasi untuk yang akan mendaki di jalur ini jika puncak yang akan di tuju minimal bermalam 2x logistik menyesuaikan dan menggunakan sepatu tracking, celana panjang bukan jeans,baju / kaos berlengan panjang, sarung tangan dan golok tebas dan tidak dianjurkan trecking malam melebihi jam 22.00 wib.

banyak hal yang tak terduga banyak hal yang membuat semangat hampir redup tapi percayalah doa dan usahamu takan pernah sia - sia.

" mendaki untuk mengenalmu "

Tuesday, June 7, 2016

Puncak diatas Puncak, Gunung Slamet via Guci

Jumat, 6 mei 2016

Selesai rapat pertmemuan dengan PML aku langsung bergegas pulang kerumah packing – packing semua barang dan peralatan yang akan dibawa. Tak henti hentinya suara hp berbunyi pesan dari andre yang isinya memastikan kesediaanku untuk bersedia ikut atau tidak, karna memang andre sudah seminggu yang lalu mengabariku untuk menemani temen – temen pendaki dari bogor ( makapala ), dan aku membalasnya hari ini bersedia menemani karna jalur yang mau di lewati via jurangmangu rencana lintas jalur turun jalur guci.

Aku langsung meluncur kerumah andre kemudian langsung menuju rumah ian salah satu pendaki dari bogor yang kebetulan rumahnya di daerah warungpring randudongkal pemalang temannya si andre. Sesampainya dirumahnya ian aku sempat ngobrol sebentar sama ian yang belum aku kenal sebelumnya, orangnya ramah dan kocak dan di belakang ada dua cewe lagi namanya uha sama susi yang lagi nontong tv kemudian dua orang lagi cowo lagi istirahat di kamar namanya firman sama heri yang dari cirebon.

Kami meluncur dari rumah ian sekitar jam jam 16.00 dan sampai di basecamp gupala sekitar jam setengah enam. Oia untuk basecamp pendakian gunung slamet via guci ada dua basecamp meskipun jalur pendakianya sama kalo dari gerbang selamat datang di obyek wisata guci lurus kemudian ketemu pertigaan kita ambil kanan nanti ketemunya di bascampe gupala tetapi misalkan kita arah lurus saja nanti ketemunya di basecamp kompak. 
Kami memutuskan naik lewat guci dan turun lewat guci lagi tidak jadi lintas jalur. Kami berangkat dari basecamp gupala jam 19.30 wib.
 Kami jalan melewati aspal sebentar kemudian langsung masuk ke hutan tetapi masih ada ladang warga. Jalanan masih landai dan jalur masih jelas karna ada bekas makadam/ aspal yang sudah rusak. Banyak percabangan yang di buat oleh para pencari burung susi di urutan depan kemudian bekti, uha, heri, firman, saya dan andre paling di belakang.

di sepanjang jalur ini kami berpapasan dengan pendaki lain yang turun via guci naik via bambangan.
Suhu badan sudah mulai memanas dan keringatpun sudah mulai menetes kami perlahan menapaki secara perlahan. Setelah satu jam setengah kita berjalan sampailah di pos I pos pinus jam 21.00 wib.

Kami istirahat sebentas melepaskan kerier yang menempel di pundak sembari membuka bekal makanan yang d bawa oleh ian untuk di makan bersama. Namapaknya si firman ada trouble dengan kondisi badannya dan dia memutuskan untuk kembali ke basecamp di temani heri sebenarnya berat si,, tapi safety first aja wez.

Kami berlima melanjutkan pendakian kembali menuju pos 2 jam 21.30 dengan ian di depan di lanjutkan susi, uha, aku dan andre. Jalur pendakian terasa sangat sepi tidak seperti pas di jalur menuju pos 1, karna memang hari itu hanya ada tiga rombongan pendaki termasuk kami tetapi rombongan yang lainya sudah berangkat sorenya beberapa jam sebelum kami.
Jalur menuju pos 2 tidak telalu terjal masih banyak landainya hanya sesekali nanjak. Kami berlima terus benjalan entah kenapa semua ga banyak bicara mungkin mereka lelah, hanya alunan musik yang dari hpnya andre. Satu jam kemudian sampailah di pos 2 pos cemara, kami hanya istirahat beberapa menit saja kemudian langsung melanjutkan pendakian kembali dan ahirnya samapailah di pos 3 (pos pasang) jam 23.30 wib.

Di pos 3 lumayan luas, saat kami sampai di pos 3 sudah ada tenda yang berdiri, ada ada 6 tenda pendaki lain dan kami mendirikan tenda di pos 3. Aku andre dan bekti mendirikan tenda dan si uha sama si susi melaksanakan sholat isya terlebih dahulu. Setelah selesai mendirikan tenda kami pun menyiapkan alat tempur untuk masak kali ini yang menjadi koki uha susi dan bekti aku dan andri membantu mendoakan biar cepet matang hehe...

Setelah selesai makan kami pun tidur nyenyak....zzzzzzzzz


Sabtu, 7 mei 2016 pukul 05.35

Satu persatu kamipun terbangun, hawa masih terasa dingin malas rasanya untuk keluar dari tenda. Tapi kami sudah berencana untuk melanjutkan pendakian dari pos 3 sepagi mungkin hehehe.. Cuma rencana...
Kami langsung menjalankan tugasnya masing masing, Uha langsung menyiapkan alat tempur untuk menyiapkan sarapan dan bekal makan untuk siangnya, susi bagian ngupas bawang, si ian bagian motong – memotong, saya melipat – lipat roti untuk di bakar dan si andre bagian icip icip hahaha...
Makanan siap kamipun langsung menyantapnya, tapi saya masih ingat do’a yang di ucapkan oleh uha. Setelah selesai sarapan kamipun menyiapkan perlengkapan yang akan kami bawa menuju puncak, karena tenda akan di tinggal di pos 3.

Menurut tetangga sebelah, dari pos 3 menuju puncak jarak tempuh normal untuk pendaki sekitar 6 jam lebih kemungkinan kami akan sampai di puncak sekitar jam 16.00 wib.
Waktu sudah menunjukan jam 10.00 wib dan kamipun langsung melangkahkan kaki menuju pos 4. Seperti biasa ian di depan kemudian susi,uha,saya dan andre paling belakang.

Jalur menuju pos 4 mulai terasa menanjak dan semak – semak lebat menutupi jalur pendakian, menurut saya jalur ini hampir mirip seperti jalur bambangan pos 2 ke pos 3.
Banyak pohon pohon yang tumbang menutupi jalur pendakian sehingga kami harus menaiki pohon tersebut untuk melewatinya. Jalur semakin menanjak membuat langkah kaki ini semakin melambat, dan sesekali kami berhenti sejenak untuk mengatur hembusan nafas ini.



Sempat ketemu juga dengan orang tegal dan biasa seperti pendaki pada umumnya sambil istirahat sejenak sambil speak-speak hehe.. di sela – sela obrolan orang tegal menanyakan bagaimana semalem lewat pos 2 menuju pos 3, aku langsung penasaran menanyakan kepada orang tersebut tentang pos 2 menuju pos 3. Katanya sering terjadi hal – hal aneh di antara pos 2 menuju pos 3 tapi katanya loh yah boleh percaya boleh tidak, dan silahkan mencobanya sendiri, tak ada apa – apa.


Kami melanjutkan lagi menuju pos 4, dan setelah satu setengah jam berjalan akhinya sampai juga di pos 4 (pos kematus) pos dengan ketinggian 2578 mdpl dengan area datarnya bisa untuk mendirikan tenda sekitar 4-5 tenda dengan kapasitas tenda 4-5 orang.
Ian, susi dan uha sudah duduk duluan karena memang sudah sampe lebih awal beberapa menit dari aku dan andre. Dan terlihat sedang sambil memandangi rombongan pendaki yaitu 4 orang laki – laki mungkin menurutnya bagaikan angin sejuk yang sejenak melupakan rasa lelah hahaha tapi buka mereka objek dari pandangannya, karena masih ada satu rombongan lagi yang terdiri dari ayah,ibu dan 2 anaknya 1 cewe masih SD dan satunya cowo masih SMP.

Entah apa yang membuat satu keluarga tersebut ada niatan untuk mendaki gunung slamet, apakah hobi dari sang ayah hobi dari sang ibu, hobi dari keduanya dan ingin mengenalkan kepada anak-anaknya sejak dini atau... entahlah yang jelas mereka punya alasan untuk bisa sampai disini.

Tak terlihat sedikitpun di raut wajah mereka rasa lelah yang ada hanya senyum ceria, mungkin kebersamaan yang utuh dalam satu keluarga kecil yang membuat mereka bisa tersenyum bahagia dalam kesederhanaan.


 Coba bayangkan jika sebuah keluarga tinggal atau menetap di daerah seperti ini mungkin mereka  tidak ingin lagi uang yang banyak, tidak ingin lagi jabatan yang tinggi mungkin hanya butuh makan secukupnya dan berfikir untuk lebih mengenal lagi dengan tuhannya. Hehe ngelantur.... lanjut ...

Di pos 4 ini dekat dengan sumber mata air tinggal turun sebentar ke arah kiri menurun dan bisa ambil air sepuasnya gratis tis tis hahaha tapi sebenarnya jangan di jadikan kebiasaan untuk membawa air sedikit karena ada mata air. Kalo kita mampu tak perlu mengandalkan yang lain dan ini berlaku dalam apa saja dan siapa saja tentunya dengan pertimbangan – pertimbangan yang di rasa masuk akal.

Pendakian di lanjutkan kembali menuju pos 5. Jalur menuju pos 5 dengan kondisi jalur semakin menanjak banyak pohon pohon yang tumbang menghalangi jalur sehingga kami harus melewatinya dengan lompat merangkak, sebisa mungkin usaha kita untuk bisa melewatinya.

Semakin meninggi semakin berat yang kita rasakan banyak halangan – halangan yang melintang butuh lebih banyak waktu butuh lebih banyak usaha untuk bisa sampai di atas, ini tak hanya terjadi di sebuah pendakian di kehidupan pun sama.
Di antara pos 4 menuju pos 5 ada sebuah terowongan yang tersusun dari pepohonan dan ini asli buatan alam, alam saja bisa berbuat kamu bisa berbuat apa untuk alam haha.. banyak pendaki yang menyebutnya terowongan ini dengan terowonga celeng, mungkin karena bentuknya terlihat seperti terowongan celeng dan memang untuk melewatinya kita harus merangkak seperti tuuuuuuttt (sensor) kita manusia berperilakulah selayaknya manusia hehe...


Sebuah shelter terbuat dari kayu sudah mulai terlihat ini bertanda pos 5 sudah dekat dan sudah mulai terlihat. Ya kita sudah di pos 5, pos (cantigi 2852 mdpl ) pos dengan tempat datar yang luas bisa untuk mendirikan banyak tenda karena memang banyak tanah yang datar dan luas, dan jika memang kondisi darurat dan tidak membawa tenda bisa beristrahat di bawah pos 5 jalan hanya 5 menit menuju shelter yang terbuat dari kayu. Layaklah untuk beristirahat sementara.

Kami sampai di pos 5 sekitar jam 12.50 wib, kami istirahat lumayan cukup lama untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, dan juga ritual menyiapkan makan siang yang sudah di masak tadi pagi di pos 3.. selamat makan...

Pos 5 adalah pos terahir jalur pendakian gunung slamet via guci karena pos 5 adalah batas vegetasi dengan batuan merah yang menuju puncak gunung slamet suasana di pos 5 lumayan rame pendaki karena saat itu hari libur nasional jadi wajar kalo rame.

Jam 14.10 kami melanjutkan perjalanan menuju puncak katanya dari pos 5 menuju puncak guci bisa di tempuh kurang lebih sekitar 2,5 jam dan dari puncak guci menuju puncak tertinggi slamet 3428 mdpl sekitar 0,5 jam itu perhitungan umum para pendaki dan kemungkinan kami sampai di puncak tertinggi sekitar jam 17.00 wib.

Dengan semangatnya uha dan ian di depan kali ini susi di belakang mereka di susul aku dan andre. Jalur bebatuan kerikil dengan kemiringan kira-kira 76 derajat dan harus hati – hati dalam melangkah karena kerikil – kerikil sering membuat terpeleset kalo kita salah memijaknya.

Masih sekitar jam dua lebih tetapi kabut sudah menebal membuat sinar matahari seakan tak menembus sampai kulit suasana mulai redup layaknya seperti sudah mau malah dan tiba – tiba rintik – rintik hujan mulai membasahiku untungnya Cuma sebentar saja kami lanjutkan langkah kaki setapak demi setapak dan tiba – tiba hujan turun dengan derasnya. Kami pun langsung memakai jas hujan. Andre memakai jas hujan susi yang di atasku juga langsung memakai jas hujan dan uha sama ian berdua menhalangi air hujan yang mencoba membasahi tubuhnya dengan satu jas hujan hahaha kakak ade yang rukun.

Kami sempat berhenti sejenak, beberapa saat kemudian kami naik menghampiri uha untuk meminjamkan jas hujan karena kebetulan saya bawa 2 dan jas hujan uha terbawa di tas carriernya firman. Aku berjalan di derasnya hujan melewati susi yang duduk tertunduk dan diam setelah kami meminjamkan jas hujan dan aku segera menyuruh si uha untuk memakainya, setelah sudah terpakai kami mencoba melanjutkan perjalanan tetapi susi masih saja terdiam kami semua menghampirinya dan mencoba menawarkan jaketnya yang aku bawa di daypackku barangkali kedinginan pikirku tetapi tidak mau, kami mengajaknya untuk melanjutkan pendakian menuju puncak tapi tetap saja tidak mau. Entah apa yang dia rasa. Jika kelamaan diam nanti malah kedinginan karena memang hujan belum reda dan sudah mulai sore juga.

Ian menyarankan jika susi tidak mau melanjutkan ke puncak dan memutuskan untuk turun akan di temani oleh andre, dan si uha karna belum pernah ke puncak akan melanjutkan menuju puncak dan di temani si ian sedangkan aku terserah mau turun dan membiarkan tanpa menemani uha dan ian naik ke puncak atau mau naik dengan kondisi cuaca yang sedang berkabut hujan dan sudah sore pula.

Bagaimana mungkin kita terpisah di batuan gunung slamet sedangkan dengan kondisi yang seperti ini dari awal saja kita naik bareng kalo kondisinya ga seperti ini si gak apa – apa (pikirku).

Si uha masih berambisi ingin melanjutkan pendakian menuju puncak karena belum pernah ke puncak slamet dan di setiap pendakian pun slalu sampai puncak, sedangkan si susi pernah sampai ke puncak slamet.

Aku sempat bingung juga mauu turun atau naik kalo ikut naik pasti nanti di bawah ceritanya beda kalo ikut turun masa iya tega ga nemeni 2 orang cwek ke puncak, kalo ada apa apa gimana? #%%+%&%(($@@*

Tiba – tiba aku teringat “safety first” dan “kebersamaan” akhirnya aku membujuk si uha karena memang cuaca tidak mendukung, kabut tebal dan hujan, jika sampai puncak pun akan membahayakan dan tidak akan dapat view yang bagus itu hanya akan memuaskan ego pribadi. Belajar ikhlas lah menerima keadaan untuk pernah mendaki gunung tanpa harus sampai ke puncak, puncak takkan pernah lari kemana dan akan selalu ada puncak di atas puncak jika hanya mementingkan ego pribadi, karena puncak keindahan dalam pendakian adalah kebersamaan.

Akhirnya kami memutuskan untuk turun dan hujan belum juga reda sampai akhirnya kami meneduh di shelter di bawah pas pos 5 bersama rombongan pendaki dari tegal. Dan kami semua pun tersenyum.... haa???





peta jalur pendakian

# catatan pribadi untuk pembelajaran diri.
# mendaki untuk mengenalmu.

Wednesday, February 3, 2016

cahaya dari surga


 Gua jomblang merupakan gua vertikal dengan hutan purba yang rapat didasarnya. Sebuah lorong sepanjang 300 meter yang dihiasi dengan ornamen gua yang indah tempat dimana bisa menyaksikan cahaya dari surga.
            Gua jomblang merupakan salah satu gua dari ratusan kompleks gua gunung kidul yang terkenal karena kenukan dan keindahannya yang tidak terbantahkan. Untuk memasuki gua jomblang di perlukan kemampuan teknik tali tunggal atau single rope technique (SRT). Oleh karena itu, siapapun yang hendak melakukan caving di jomblang wajib menggunakan peralatan yang khusus sesuai dengan standar keamanan caving di gua vertikal dan harus didampingi oleh penulusur gua yang sudah berpengalaman bagi siapa yang baru belajar caving.



            Ada 14 item yang di  anjurkan dari saudara kita dari mapala UNISI jogjakarta untuk SRT yaitu 1 seat harness, 1 chest harness, 1 ascender/croll, 1 descender/capstan, 1 foot loop, 1 jummar, 5 carabiner(4 type screw dan 1 type snap),1 MR oval, 1 MR D, 1 cowstail yang di simpul menjadi 2 bagian panjang dan pendek.
Petualangan menuju kedalaman perut bumi pun dimulai dengan berjalan meningalkan basecamp menuju bibir gua yang sudah di  siapkan si rigging(pembuat lintasan). Ada beberapa lintasan di gua jomblang dengan ketinnggian beragam mulai dari 40 sampai 80 meter. Berhubung ini baru pertama kalinya menuruni gua vertikal maka lintasan yang di pilih merupakan lintasan terpendek yang di kenal dengan jalur VIP. 15 meter pertama dari teras VIP ini merupakan slopeyang masih bisa di tepaki  oleh kaki, setelah itu di lajutkan menuruni tali sepanjang kurang lebih 20 meter untuk sampai di dasar gua. Rasa was-was yang sempat hinggap saat melayang di udara langsung menghilang begitu menjejakan kaki kembali di atas tanah. Pemandangan yang ada di depan mata mengundang decak kagum. Di perut gua jomblang terhampar hijaunya hutan yang sangat subur. Aneka lumut, semak hingga pohon-pohon besar tumbuh dengan rapat. Hutan dengan vegetasi yang jauh berbeda dengan kondisi di atas ini sering dikenal dengan nama hutan purba.
Karena saya dan febri sudah di perut gua dan menuggu teman-teman lama tak terlihat untuk sampai di perut gua, dengan rasa penasaran penulusuran tidak terhenti di jomblang , melainkan dilanjutkan menuju luweng grubug dengan memasuki sebuah entrance (mulut gua) yang berukuran sangat besar. Jomblang dan grubug dihubungkan dengan sebuah lorong sepanjang 300 meter. Tak berapa lama terdengar suara gemuruh aliran sungai dan seberkas cahaya terang di tengah kegelapan. saya dan febri pun mempercepat langkah guna melihat apa yang didepan.
Sebuah maha karya sang pencipta yang sungguh mengagumkan terpampang di hadapan. Sungai bawah tanah yang masih satu sistem dengan kali suci mengalir dengan deras. Sinar matahari yang menerobos masuk dari luweng grubug setinggi 90 meter membentuk satu tiang cahaya , menyinari flowstone yang indah walaupun tidak mendapat kan cahaya dari surga yang sempurna karena waktu terbaik untuk menikmati keindahan gua grubug adalah pukul 10:00 – 12:00. Sebab pada saat itu matahari berada di atas kepala sehingga tercipta cahaya surga yang indah dan sempurna. Air yang menetes dari ketinggian turut mempercantik pemandangan, hanya ada perasaan takjub dan terpesona. Akhirnya dengan mata kepala sendiri saya bisa menyaksikan lukisan alam yang di kenal dengan istilah cahaya surga.
Sembari menunggu temen-temen saya dan febri beserta 5 rekan dari mapala unisi yang sudah sampe duluan di luweg grubug, kita mengabadikan momen dengan berfoto-foto sambil mempelajari tentang gua. Di luweng grubug kita bertemu dengan saudara kita dari mapala UNY dan mapala UGM. Saling sharing dan berbagi ilmu dan berbincang-bincang, 30 menit kita di luweng grubug temen kita dari MAEPALA tak kunjung datang juga. Akhirnya saya dan febri memutuskan kembali ke jomblang tempat dimana pertama kali turun dari jalur VIP.
Setelah semua teman sampai di perut gua dan melihat-lihat seisi gua, kami pun kembali ke atas gua, satu persatu dari kami  mulai naik  ke atas dengan menggunakan SRT. Setibanya di bibir gua kami coba mengistirahatkan sejenak  tubuh ini dari kelelahan. Di tengah malam sembari berkemas dan ceklis semua peralatan dan bawaan, hujan turun dengan derasnya bahu membahu untuk berpindah ke saung atau pondok berukuran 5 x 2 meter  yang tidak jauh dari basecamp.  Setelah hujan reda kami bergegas pulang ke posko dengan rentetan kuda besi, setibanya di posko kami bergotong royong saling kerjasama untuk menyuci peralatan SRT. 




Latihan SRT sebelum turun ke gua




 nah ini dia........







nyampe malem broh....
 ga beda dengan suasana di dalam gua entah malam entah siang sama aja.... gelap....


 foto bareng anggota mapala unisi hehe...



penulis : Ari Zakaria
https://www.facebook.com/arie.mangkulangit.9